"Dari pemantauan kami selama di Indonesia, ini menjadi pelajaran yang bagus bagi kami selaku tuan rumah berikutnya. Dengan keberhasilan Indonesia ini, kami jadi punya tantangan untuk bisa mensukseskan penyelenggaraan selanjutnya. Minimal bisa menyamai," katanya.Satu hal yang menurutnya, harus dikembangkan dari penyelenggaraan Tafisa selanjutnya adalah masalah komunikasi dan koordinasi. Karena melihat dari penyelenggaraan kali ini, dia melihat masih ada mis jadwal."Kita harus memperbaki itu di Lisbon nanti," imbuhnya.Masih adanya mis jadwal memang diakui oleh Ketua Panitia Pelaksana Tafisa Games Hayono Isman sebagai kelemahan mereka yang memang harus dievaluasi. "Mis jadwal ini dalam artian kontingen negara lain tidak tahu jadwal kegiatan cabang lainnya, padahal mereka ingin melihatnya. Harus diakui itu kelemahan saat ini. Ini menjadi evaluasi kita untuk tampil lebih baik di masa datang," tuturnya.
Menyikapi adanya tanggapan Tafisa ini sepi, menurut Hayono, mereka (para komunikas dimasing-masing cabang) tidak terlalu memusingkan penonton ramai atau tidak. Tapi mereka menilai suksesnya acara tersebut dilihat dari tingginya antusiasme komunitas yang ikut serta di dalamnya, Bukan hanya komunitas dari Indonesia saja, tapi juga dari komunitas dunia."Target kita bukan penonton, karena mereka belum tentu memahami esensi olahraga yang ditampilkan. Buat kami spectator not number one, tapi komunitas yang jadi sasaran. Tingkat partisipasi yang tinggi yang jadi penilaian kami. Sekarang mungkin untuk penonton dinilai belum begitu besar tapi kelak kedepannya pasti banyak peminat," ucapnya menambahkan.
Sama dengan pembukaan, penutupan kemarin juga dilangsungkan dalam kondisi gerimis. Acara pun molor hampir 1,5 jam dari jadwal semula pukul 18.00 WIB.Bertempat di pantai karnaval ABC Mall Ancol, penutupan Tafisa Games dilakukan oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) Imam Nahrawi. Selain menampilkan kebudayaan Indonesia, seperti sajian kuda lumping, reog Ponorogo, dan seni musik tradisional, turut dimeriahkan diva Indonesia Titi DJ. Acara penutupan itu diakhiri dengan penyerahan bendera Tafisa kepada perwakilan pemerintah Portugal secara simbolis dan tayangan preview Lisbon sebagai tuan rumah Tafisa Games 2020.
Indonesia selaku tuan rumah 6th Tafisa World Sport For All Games 2016 dinilai Presiden Tafisa Prof. Dr. Ju-Ho Chang telah sukses menggelar pesta olahraga rekreasi itu. Dengan banyaknya olahraga dan permainan yang dimiliki, Indonesia dianggapnya sebagai negara nomor satu untuk olahraga tradisionalnya."Indonesia memiliki 34 provinsi dan semuanya memiliki olahraga dan permainan berbeda, hingga saya sangat terkesan. Jika ada Olimpiade tradisional, maka Indonesia sudah pasti jadi juaranya," katanya dalam jumpa pers penutupan Tafisa di ABC Mall, Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Jakarta, Selasa, 11 Oktober 2016.
Ju-Ho mengucapkan selamat kepada Indonesia sebagai tuan rumah dan seluruh partisipan. Karena Indonesia bukan saja sukses sebagai penyelenggara tadi juga sukses menginspirasi negara lain untuk lebih mengenalkan budaya tradisionalnya. Dia melihat sendiri dari kunjungannya ke beberapa venue, terutama di cabang-cabang olahraga tradisional Indonesia sangat banyak peminatnya."Bukan hanya itu, di martial art dan di pertunjukkan Korea Dance, penonton yang hadir bahkan ikut berdansa bersama. Ikut berpartisipasi. Itu sesuatu pemandangan yang unik menurut saya," tukasnya.Perwakilan dari Pemerintah Portugal yang akan menjadi tuan rumah Tafisa selanjutnya di 2020, Vitor Pataco bahkan melihat negaranya harus bisa mencontoh kesuksesan Indonesia di dalam menggelar Tafisa. Minimal mereka mengaku harus bisa mengimbangi penyelenggaraan di Indonesia ini.
Tengok Kemajuan Olahraga di Indonesia Melalui Museum | PT. Bestprofit Futures Jambi
Delegasi negara-negara peserta TAFISA Games 2016 antusias dan kagum saat mengunjungi Museum Olahraga Nasional yang terletak di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Selasa (11/10).
Presiden TAFISA Ju-ho Chong yang langsung memimpin para delegasi mengaku senang dan terkesan dengan apresiasi yang diberikan pemerintah Indonesia kepada insan olahraga melalui museum. Sebab, tak hanya olahraga prestasi, museum ini juga menampilkan olahraga tradisional.
"Saya sangat terkesan sekali dengan museum olahraga Indonesia. Tak hanya olahraga prestasi, tapi olahraga tradisional juga dipamerkan di museum ini," kata pria asal Korea itu, di Museum Olahraga TMII Jakarta, Selasa (11/10). Chong mengakui, pemerintah Indonesia sangat menghargai olahraga tradisional dan rekreasi, sementara di negaranya, pemerintah hanya memasukkan cabang olahraga prestasi di museum olahraga. "Museum di Korea hanya mengabadikan olahraga prestasi. Museum Indonesia memamerkan semua olahraga. Ini penghargaan pemerintah kepada atlet. Ini luar biasa," lanjutnya.
Kepala Museum Olahraga Nasional Herman Chaniago juga mengaku sangat dengan kehadiran perwakilan delegasi TAFISA Games yang terdiri dari 87 negara yang menyaksikan jejak-jejak pahlawan olahraga Indonesia. "Kita merasa bangga didatangi para peserta Tafisa yang terdiri dari berbagai bangsa. Melalui museum ini kami ingin melestarikan sejarah dan perjuangan olahraga Indonesia kepada anak cucu kita," kata dia. Herman menjelaskan, museum juga akan menjadi jendela informasi, wahana edukasi, dan komunikasi bagi penerus bangsa yang akan melestarikan sejarah dan perjuangan olahraga Indonesia kepada anak cucu. Selain mengunjungi museum olahraga, 500 orang delegasi TAFISA juga mengunjungi anjungan Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Museum Indonesia, dan berakhir dengan nonton bareng film Indonesia Indah di Keong Emas. Pergelaran TAFISA Games 2016 ajang Olahraga Rekreasi dan Tradisional akan ditutup secara resmi pada Selasa 11 Oktober malam di pelataran Pantai ABC Ancol Jakarta Utara.
Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora Raden Isnanta mengapresiasi kunjungan para peserta TAFISA Games 2016 di Museum Olahraga Nasional yang dikelola oleh Kemenpora. Menurutnya, kehadiran peserta olimpiade olahraga tradisional dan rekreasi ke Museum Olahraga itu dapat mengenalkan Indonesia ke mancanegara. "Kehadiran para delegasi ini sekaligus mempromosikan Indonesia secara luas ke mancanegara, jadi mereka tak hanya Bali saja tahunya," ujarnya.Isnanta menambahkan, melalui museum olahraga ini, tamu asing yang hadir akan tahu lebih banyak tentang kekayaan Indonesia. Khususnya olahraga tradisional dan salah satu sarananya adalah melalui event TAFISA Games. "Museum ini memajang hampir semua cabang olahraga tradisional asli Indonesia. Kalau yang dipertandingkan di TAFISA itu hanya sebagian kecil," jelasnya. "Minimal dengan hadir di museum ini semua delegasi akan tahu ternyata Indonesia itu kaya. Masih banyak lagi olahraga tradisional yang kita punyai," tambah Isnanta.
TAFISA 2016 tonggak kebangkitan olahraga tradisional | PT. Bestprofit Futures Equity
Sebab, sejak dimulai pada Kamis (6/10) sampai ditutup pada Selasa (11/10) ada sekitar 32.000 peserta dari 83 negara dan 34 provinsi Indonesia terlibat dalam kegiatan empat tahunan tersebut.
"Pelaku TAFISA Games sejatinya adalah masyarakat, bukan atlet, artinya bisa dilakukan oleh semua orang dari anak-anak sampai para lansia berasal dari seluruh dunia. Inilah falsadah TAFISA, persatuan dalam keberagaman, Bhinneka Tunggal Ika," tutur Hayono.TAFISA World Sport for All Games Ke-enam pada tahun 2016 sendiri sudah dimulai sejak Kamis (6/10), dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla pada Sabtu (8/10), dan ditutup pada Selasa (11/10).
Acara penutupan dilaksanakan di Pantai Ancol Beach City (ABC), Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, dan dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Beberapa pergelaran seni ditampilkan pada penutupan, seperti lantunan lagu penyanyi Titi DJ dan Gabriel Hervianto, serta pertunjukan Tari Reog Ponorogo.Berikutnya, TAFISA World Sport for All Games Ke-tujuh akan dilaksanakan pada tahun 2020 dengan Portugal, tepatnya Kota Lisbon, sebagai tuan rumah.
Perwakilan pemerintah Portugal Vitor Pataco menyatakan pihaknya akan melakukan yang terbaik untuk kegiatan tersebut."Kami akan berusaha menjadi tuan rumah yang sama baiknya dengan Indonesia," tutur Vitor.
Pelaksanaan TAFISA World Sport for All Games Ke-enam pada tahun 2016 di Indonesia menjadi tonggak kebangkitan olahraga dan permainan tradisional baik di dunia, khususya di Indonesia, kata Ketua Panitia Pelaksana Hayono Isman."Saya yakin pelaksanaan TAFISA World Sport for All Games 2016 ini nendang dan berdampak positif di masyarakat. Indonesia telah melihat bagaimana dunia sangat menghormati kita sebagai negara dengan harta karun olahraga dan permainan tradisional," ujar Hayono di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Selasa.Menurut dia, pelaksanaan acara TAFISA pada 2016 dapat menarik perhatian komunitas-komunitas olahraga rekreasi dari seluruh dunia.
Best Profit