"Menjelang pertandingan, ada beberapa venue yang belum sepenuhnya siap dan juga sarana (peralatan) yang harus dipenuhi. Namun demikian, hal tersebut akhirnya sebagian dapat diatasi tanpa harus membatalkan nomor-nomor pertandingan yang ada. Kondisi seperti itu harusnya tidak boleh terjadi seandainya pihak penyelenggara sudah sepenuhnya melakukan persiapan secara komprehensif," ungkap Gatot.
Gatot berharap penyelenggaraan PON di Jabar ini bisa memberikan acuan kepada PB PON berikutnya yang akan berlangsung di Papua pada 2020. Sementara itu aksi yang ditampilkan pada pembukaan dan penutupan di PON bisa menjadi pertimbangkan untuk digunakan di event Asian Games 2018 mendatang.
"Esensi pertunjukkan tersebut sebagian di antaranya akan kami pertimbangkan untuk ditampilkan pada saat acara pembukaan dan penutupan Asian Games XVIII tahun 2018 di Jakarta dan Palembang dengan sejumlah tambahan kreativitas dan inovasi lain sesuai standar kualitas pesta Asian Games," harapnya.
Seperti diketahui, tuan rumah Jabar berhak menjadi juara umum PON kali ini. Setelah berhasil memperoleh 217 medali emas, 157 medali perak dan 157 medali perunggu.
Pasca penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016, Kemenpora memberikan evaluasi. Jika dibandingkan dengan dua episode PON sebelumnya Kemenpora menilai ada peningkatan, meski dibumbui insiden kericuhan di beberapa cabang olahraga.
Deputi IV bidang Peningkatan dan prestasi Kemenpora, Gatot Dewa S Broto menilai peningkatan tersebut datang dari sikap kritis masyarakat yang teraktualisasikan melalui media sosial. Sementara mengenai kisruh yang terjadi, dinilai masih bisa diatasi.Tentang kesiapan, Kemenpora juga menganggap PB PON telah berhasil menjawab tantangan dan keraguan publik.
Junjung Tinggi Sportivitas dan Fair Play | PT. Bestprofit Futures Equity
Perlu disadari, bahwa nilai olahraga yang paling hakiki bermuara pada kemanusiaan, olahraga juga menawarkan persahabatan dan perdamaian, landasan sportivitas dan fair play adalah nilai tertinggi dari sebuah kemenangan. Namun, tampaknya nilai ini sudah mulai tergerus oleh ambisi untuk mencapai kemenangan dengan kecurangan.Banyak peristiwa dalam pertandingan olahraga yang mencederai nilai-nilai yang ditawarkan oleh nilai-nilai luhur olahraga. Salah satu contoh pada PON XIX Jawa Barat, banyaknya protes dari kontingen yang pada umumnya ditujukan kepada tuan rumah merupakan gambaran ketidakpuasan dalam penyelenggaraan, baik bagi panitia, maupun pada wasit pemimpin petandingan. Berbagai sumber kericuhan dapat bermula, dari wasit, dari atlet, dari pelatih/manajer yang tidak puas, juga dari penonton yang terlalu agresif memprovokasi pertandingan.
Dari manapun sumber kericuhan itu semua bermuara dari ketidakdisiplinan yang merupakan salah satu nilai pembentuk dari nilai sportivitas, karena kedisiplinan selalu merujuk kepada ketaatan pada peraturan yang menjadi pengontrol tingkah laku.Wasit/juri yang tidak disiplin akan melahirkan keputusan yang tidak netral dan tidak adil, pelatih/manajer yang tidak disiplin akan seenaknya protes tanpa melihat kenyataan, atlet yang tidak disiplin selalu berusaha main dalam kecurangan, demikian halnya pembina yang tidak disiplin selalu berusaha mendikte dari luar seolah-olah kemenangan dapat dijentik dengan hitungan uang. Perilaku ketidakdisiplinan ini merusak sebuah sistem yang menghancurkan nilai-nilai olahraga. Sesungguhnya, perilaku disiplin dapat memperlihatkan kualitas seseorang bahkan kualitas sebuah negeri. Dalam lingkup inilah orang biasa menyebut sportivitas.
Perhelatan PON XIX Jawa Barat telah usai. Kini Peparnas (Pekan Paralimpik Nasional) membuka momen baru pesta akbar yang diperuntukkan bagi atlet berkebutuhan khusus yang akan diselenggarakan pada 15-25 Oktober 2016, juga di Tanah Pasundan, Jawa Barat.
Jika PON yang lalu mempertandingkan 44 cabang olahraga dengan 756 nomor pertandingan, sedangkan Peparnas XV mempertandingkan 13 cabang olahraga dengan 620 nomor pertandingan. Akankah tuan rumah Jawa Barat kembali meraih juara umum, dan akankah praktik kecurangan kembali dipertontonkan?Perlu disadari, bahwa nilai olahraga yang paling hakiki bermuara pada kemanusiaan, olahraga juga menawarkan persahabatan dan perdamaian, landasan sportivitas dan fair play adalah nilai tertinggi dari sebuah kemenangan. Namun, tampaknya nilai ini sudah mulai tergerus oleh ambisi untuk mencapai kemenangan dengan kecurangan.
Banyak peristiwa dalam pertandingan olahraga yang mencederai nilai-nilai yang ditawarkan oleh nilai-nilai luhur olahraga. Salah satu contoh pada PON XIX Jawa Barat, banyaknya protes dari kontingen yang pada umumnya ditujukan kepada tuan rumah merupakan gambaran ketidakpuasan dalam penyelenggaraan, baik bagi panitia, maupun pada wasit pemimpin petandingan. Berbagai sumber kericuhan dapat bermula, dari wasit, dari atlet, dari pelatih/manajer yang tidak puas, juga dari penonton yang terlalu agresif memprovokasi pertandingan. Dari manapun sumber kericuhan itu semua bermuara dari ketidakdisiplinan yang merupakan salah satu nilai pembentuk dari nilai sportivitas, karena kedisiplinan selalu merujuk kepada ketaatan pada peraturan yang menjadi pengontrol tingkah laku.
Wasit/juri yang tidak disiplin akan melahirkan keputusan yang tidak netral dan tidak adil, pelatih/manajer yang tidak disiplin akan seenaknya protes tanpa melihat kenyataan, atlet yang tidak disiplin selalu berusaha main dalam kecurangan, demikian halnya pembina yang tidak disiplin selalu berusaha mendikte dari luar seolah-olah kemenangan dapat dijentik dengan hitungan uang. Perilaku ketidakdisiplinan ini merusak sebuah sistem yang menghancurkan nilai-nilai olahraga. Sesungguhnya, perilaku disiplin dapat memperlihatkan kualitas seseorang bahkan kualitas sebuah negeri. Dalam lingkup inilah orang biasa menyebut sportivitas.Perhelatan PON XIX Jawa Barat telah usai. Kini Peparnas (Pekan Paralimpik Nasional) membuka momen baru pesta akbar yang diperuntukkan bagi atlet berkebutuhan khusus yang akan diselenggarakan pada 15-25 Oktober 2016, juga di Tanah Pasundan, Jawa Barat.Jika PON yang lalu mempertandingkan 44 cabang olahraga dengan 756 nomor pertandingan, sedangkan Peparnas XV mempertandingkan 13 cabang olahraga dengan 620 nomor pertandingan. Akankah tuan rumah Jawa Barat kembali meraih juara umum, dan akankah praktik kecurangan kembali dipertontonkan.
Dianggap Kurang Seksi, PB PON Langsung Tingkatkan Kualitas Peparnas XV | PT. Bestprofit Fututres Equity
"Semua ini dilakukan mengingat Peparnas dianggap kurang seksi baik dari peminat maupun dari publikasi medianya. Kami sudah melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk bisa memobilisasi massa dari sekolah dan mahasiswa sebagai penonton di arena agar tidak kalah menarik daripada PON," ujar Sekretaris Umum PB PON, Ahmad Haddadi.Minimnya antusiasme dalam menyambut Peparnas bukan hanya dari penonton dan pemberitaan media, namun juga daerah untuk mengikuti Peparnas. Tercatat baru 18 provinsi yang menjalani proses keabsahan atlet dari total 29 provinsi yang mengkonfirmasi keikutsertaannya. Karena itu, menurut Hadadi, pihaknya meminta NPCI (National Paralympic Committee of Indonesia) lebih aktif lagi dalam mempromosikan Peparnas.
"Khusus untuk Peparnas, semua biaya akomodasi dan transportasi akan kami tanggung. Bahkan, kami juga akan menyediakan fasilitas luar biasa. Jika penjemputan kontingen PON hanya di Bandung, khusus untuk Peparnas, kami jemput langsung dari Bandara Soekarno-Hatta, Banten," janji Haddadi.Pembukaan Peparnas akan dilangsungkan di Stadion Siliwangi, Kota Bandung, Sabtu 15 Oktober 2016 sore. Event itu akan akan dibuka oleh Menko PMK Puan Maharani, dan ditutup oleh Menpora Imam Nahrawi pada 24 Oktober.
"Pembukaan ini akan menampilkan sesuatu yang unik dan menarik dan pembukaan akan diselenggarakan di sore hari. Akan ada pesta kembang api pada sore hari dan dimeriahkan oleh artis serta seniman dari kota Bandung," tutup Haddadi.erdapat 1.943 keping medali yang akan diperebutkan dalam ajang Peparnas XV. Rinciannya, 599 emas, 599 perak, dan 745 medali perunggu.
Pengurus Besar Pekan Olahraga Nasional (PB PON) Jawa Barat, optimistis penyelenggaraan Peparnas XV berlangsung meriah. Itu bisa saja terjadi karena paket penyelenggaraan Peparnas tidak terlalu berbeda dengan PON XIX.Peparnas yang terselenggara pada 15 Oktober hingga 24 Oktober di Kota Bandung akan diikuti oleh 29 provinsi. Event ini akan mempertandingkan 13 cabang olahraga dan mempertemukan 2.355 atlet.Munculnya sikap dari PB PON ini tak lain demi menjawab keraguan publik yang menyebutkan Peparnas jauh dari minat daerah, antusiasme penonton, dan pemberitaan. Mengatasi kendala itu, PB PON langsung melakukan sosialisasi melalui media televisi, pemberitaan media nasional, dan lokal.
Best Profit