Alan mengatakan, selain diperkuat sejumlah atlet pelatnas, Sumut juga diperkuat oleh talenta - talenta muda yang tidak kalah kualitasnya. Meski minim jam terbang, Alan yakin semangat dan keseriusan selama menjalani puslatda menjadi modal tersendiri untuk meraih medali perdananya.
"Atlet muda kita juga tidak kalah kualitasnya, bahkan ada sejumlah atlet mampu memecahkan rekor peparnas untuk cabang olahraga terukur seperti angkat berat dan atletik. Kami juga harap dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Sumut agar kami bisa meraih prestasi terbaik," katanya.
Sebelumnya Ketua Kontingen Peparnas Sumut Baharuddin Siagian mengaku optimistis Sumut bisa kembali berjaya dan mengulang prestasi tertinggi di Tanah Legenda."Diharapkan seluruh atlet dapat mencapai puncak prestasi bagi kontingen Sumut di Peparnas tahun ini. Mudah- mudahan prestasi yang diukir nantinya bisa mengharumkan nama pribadi, orangtua serta provinsi Sumut di kancah nasional," katanya.
Kontingen Sumatera Utara yang akan berlaga di Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV/2016 Jawa Barat, dengan kekuatan 75 atlet dan 50 ofisial tiba di Bandung."Siang tadi rombongan besar Peparnas Sumut sudah tiba di Bandung," kata Ketua National Paralympic Committee (NPC) Sumut, Alan Sastra Ginting di Bandung, Rabu.
Menghadapi Peparnas di Jawa Barat yang berlangsung 15-24 Oktober 2916 tersebut, Sumatera Utara mengirimkan 75 atlet difabel terbaiknya dan akan mengikuti delapan dari 13 cabang olahraga yang dipertandingkan.Ke-75 atlet tersebut masing-masing renang (6 atlet), atletik (23 atlet), angkat berat (11 atlet), catur (16 atlet), bulutangkis (3 atlet), judo (6 atlet), tenis meja (5 atlet), serta goal ball (5 atlet).
Ini Kata Ketua NPC Kaltim Terkait Anggaran Peparnas yang Minim | PT. Bestprofit Futures Pontianak
Mengenai anggaran yang begitu minim, untung saja KONI Balikpapan mampu meringankan beban para atlet Peparnas NPC Balikpapan."Sampai saat ini aman saja dan kami dibantu oleh KONI Balikpapan agar pelatih cabor bisa meninjau ke Jabar. Ada 9 pelatih Balikpapan yang berangkat ke sana, itu bantuan dari KONI Balikpapan. Kemarin kami ajukan 17, dan alhamdulillah yang direalisasikan ada 9 pelatih. Pelatih dan ofisial itu penting untuk memonitoring atlet difabel.
Padahal, KONI kan tak bisa spekulasi pertanggungjawabannya, karena NPC sekarang lepas dari KONI. Tapi alhamdulillah KONI Balikpapan dapat membantu," kata Suharyanto.
Ketua Umum NPC Kaltim H Prasetianto mengungkapkan, atlet Peparnas NPC Kaltim yang mengikuti Peparnas XV/2016 Jawa Barat sebanyak 212 atlet dan 109 pelatih dan ofisial.
Sesuai dengan apa yang diinginkan Pemprov Kaltim, Peparnas NPC Kaltim, menargetkan agar bisa masuk di lima besar.
Terkait anggaran untuk keberangkatan atlet NPC Kaltim, Prasetianto menjelaskan, dana hibah dari provinsi Kaltim untuk NPC Kaltim sebesar Rp 6,5 miliar."Saya mau mengatakan cukup kurang dan mengatakan kurang tapi cukup. Ini saya harus mengatur, dan jadi saya sebisanya, ya secukupnya itu. Salah satu terobosan saya agar atlet tak mengeluh lagi, saya mencoba menyubsidi silang, dana 60 dari NPC Provinsi, 40 persen dari NPC kabupaten atau kota," tutur Prasetianto, usai melepas atlet Peparnas NPC Kaltim di Bandara SAMS Balikpapan, Rabu (12/10/2016).Wakil Ketua NPC Balikpapan Suharyanto menuturkan, atlet-atlet NPC, memang seharusnya harus didampingi oleh pendamping untuk membimbingnya.
Perebut 4 Emas Para Games 2013: Kasihan Kami Ini, Sudah Cacat, Dibeginikan | PT. Bestprofit Futures Pontianak
GUNTUR Amani, atlet difabel cabang olahraga renang andalan Kaltim sudah menjadi langgan meraih medali di setiap ajang kejuaraan nasional hingga internasional.Kulitnya terbakar matahari, rambutnya dipotong agak cepak, berbadan sedang namun berotot. Tatapan matanya tajam, namun seperti menyimpan sejumlah permasalahan.Selasa (11/10) kemarin, Guntut bersama atlet difabel asal Kaltim lainnya berangkat ke Jawa Barat mengikuti Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XV 2016 Jawa Barat. Di balik prestasi yang diraihnya, dengan suara setengah tertahan dan begitu emosional, ia membuka uneg-uneg mengenai persiapan dan permasalahan dirinya selama menjadi atlet Kaltim.
Seperti persiapan Peparnas Jabar ini, latihan, biaya akomodasi, transportasi, peralatan, dan lain sebagainya harus ditanggung sendiri."Sudah lama saya ingin menceritakan masalah ini dengan wartawan, agar masyarakat atau pemerintah tahu bagaimana kami ini. Terus terang, persiapan ini , ada atau tidak ada kejuaraan atau pertandingan, seminggu saya latihan tiga kali," kata atlet peraih medali 2 emas dan 1 perak di Asian Para Games Singapore 2015 kepada Tribun di rumahnya, Jalan Selili, RT 44, Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur.
Guntur pun kerap kali menanyakannya ke NPC Kaltim. "Namun jawabannya apa, anggaran katanya lagi defisit dan pengajuan-pengajuan juga mungkin telat dan sudah lama. Sudah defisit dan tak ada anggaran tahun ini. Namanya uang saku, saya tak pernah dapat dari Kaltim sejak 2011, apalagi vitamin," ujar Guntur.Mengenai berapa rupiah yang ia keluarkan untuk biaya kebutuhan selama latihan, Guntur tak menyebutkan berapa.Saat ini, guntur tercatat sebagai atlet pelatnas cabor renang untuk persiapan Asian Para Games 2017 di Malaysia. Sebelum Peparnas XV 2016 dimulai, jauh hari sebelumnya ia ditawari ikut kontingen lain, terutama Jawa Barat.Di cabor renang Peparnas, Guntur mengikuti tiga nomor, yaitu nomor 50 m gaya dada, 100 m gaya dada dan 100 m gaya kupu-kupu.(alfiansyah/Tribun Kaltim).
"Kami hanya menggunakan biaya sendiri. Tak ada biaya provinsi ataupun biaya dari daerah. Saya pakai uang pribadi."Semuanya seakan menutup mata dan tak membuka hati nurani. Ya, seperti itulah yang dialami Guntur, pria yang tidak mempunyai tangan kiri sejak 2000 akibat kecelakaan mesin kapal ketika ia pergi melaut.Untuk biaya latihan, dia terpaksa menggunakan uang tabungan dari bonus mendapatkan medali yang tak seberapa.Untuk menutupi biaya keperluannya sehari-hari, Guntur memilih bekerja lepas sebagai pembantu nelayan, profesinya dulu sebelum ia menjadi seorang atlet difabel.National Paralympic Committee (NPC) Kalimantan Timur, kata Guntur, sebagai institusi resmi yang menaungi atlet-atlet provinsi seakan tak pernah memberikan perhatian terhadapnya."Keadaan kami ketika mendapatkan medali dan bonus belum pernah ada ditangan kami seperti uang saku, uang insentif, dan lain sebagainya. Kalau latihan pakai uang pribadi. Apalagi pas latihan di Peparnas ini. Tak ada perhatian dari NPC sendiri, baik yang provinsi ataupun kota," tegas Guntur, yang pernah meraih medali 4 emas di Asian Para Games 2013 di Myanmar ini.
"Kasihan kami ini, sudah cacat, berprestasi, namun dibeginikan. Kami semua ini kan tak ada pekerjaan tetap atau bahasanya pengangguran. Jadi, untuk menutupinya itu, saya kerja lepas bantuin nelayan, antar ikan sana-sini, beli es batu untuk es ikan, pokoknya kerja lepas."Sejak NPC lepas dari naungan KONI, semuanya begitu berubah. Uang insentif dan perhatian yang begitu besar dari KONI Balikpapan tidak pernah didapatkannya lagi."KONI Balikpapan itu sangat perhatian sama saya, namanya bonus, uang insentif per tiga bulan selalu diberikan. Ketika saya memecahkan rekor di Peparnas 2012 Riau saya dapat motor matic dari KONI Balikpapan," ujarnya."Tahun lalu, saya juga dijanji KONI, apabila saya berhasil memecahkan rekor dan mendapatkan (medali) emas di Asian Para Games di Singapura saya dapat bonus dari KONI.""Ternyata, ada surat dari pusat dan tidak boleh lagi NPC berdiri di naungan KONI. Jadi, NPC itu berdiri sendiri dan tidak ada naungannya lagi sekarang."
Best Profit