"Kami menanti kembalinya Maria pada April 2017 dan kami bangga bisa mendampingi dia dan para pendukungnya di seluruh dunia selama masa sulit ini," tulis Eliasch.Namun begitu Eliasch mengingatkan bahwa HEAD tetap meminta seluruh atlet, termasuk Sharapova, untuk mengikuti aturan WADA dan tidak melakukan doping.Eliasch juga menegaskan perlunya aturan main yang jelas dan konsisten terhadap penangangan kasus doping.Sejauh ini baru HEAD yang melansir ucapan terbuka. Sponsor lain Sharapova seperti pabrikan mobil Porsche masih bersikap menunggu.
Sedangkan produsen jam tangan Tag Heuer yang menghentikan kerja sama pada Maret belum bersuara. Demikian pula apparel Nike.Sementara Komite Olimpiade Rusia memberi selamat. "Saya berharap Maria segera pulih dan bergabung kembali dengan kelompok elite tenis dunia serta tampil di Olimpiade Tokyo (2020). Semoga dia panjang umur," ujar ketua komite Alexander Zhukov dikutip BBC.Sharapova, yang sempat memimpin daftar atlet putri dengan bayaran tertinggi sebelum dilewati Serena Williams tahun ini, menyebut ini adalah salah satu hari terindah dalam kehidupannya.
Dalam pernyataan resmi, petenis yang pernah menjuarai tunggal putri Wimbledon 2004 saat berumur 17 tahun ini menyatakan telah mendapat pelajaran penting.Pertama, bagaimana para hakim CAS justru tidak sepakat dengan keputusan hakim ITF dalam hal hukuman doping.Kedua, petenis berusia 29 ini menyadari ITF tidak pernah memberi tahu para atlet bahwa ada pembaruan dalam daftar obat doping.Padahal ini penting bagi kalangan atlet dari Eropa Timur lantaran meldonium lazim dikonsumsi jutaan orang di kawasan itu.
"...semoga ITF dan otoritas tenis yang mengurusi anti-doping mau belajar dari federasi lain sehingga tak ada lagi petenis lain yang mendapat masalah seperti saya," ujar atlet yang menurut Forbes punya bayaran dari tenis dan sponsor sebesar GBP17,1 juta (Rp283 miliar) ini.ITF mengaku langsung meninjau proses pengurangan skors. Tapi mereka yakin bahwa kebijakan pengumuman daftar obat terlarang yang selama ini ditempuh sudah benar. Adapun WADA dalam pernyataan resmi menyatakan terbuka menerima keputusan CAS.Namun keputusan CAS menjadi preseden baru. Dalam tiga tahun terakhir, pengadilan yang berada di Swiss itu telah memenangkan gugatan petenis Marin Cilic dan Viktor Troicki dalam kasus doping pula.
Artinya, CAS berulang kali punya standar hukuman yang lebih rendah dibanding ITF. Jadi, seharusnya para petenis yang tersandung masalah doping bisa menempuh banding ke CAS.Meski skors berakhir pada April 2017, Sharapova kemungkinan besar baru bisa bermain lagi pada pekan pertama Mei. Turnamen pertama yang bisa diikutinya adalah WTA Tour di Praha (Republik Ceko) atau Rabat (Maroko).Tampil di salah satu turnamen itu juga memungkinkan perubahan peringkat. Sharapova saat ini berada di urutan 95 dunia karena tak pernah lagi bermain sejak 26 Januari.Bila peringkat itu tidak berubah, Sharapova bakal membutuhkan tiket khusus (wildcard) untuk bermain di Roland Garros--arena Prancis Terbuka.Tapi bila seorang atlet baru pulih dari cedera meski menempati peringkat terbawah, WTA (Asosiasi Petenis Putri) memberi pengecualian.
Bekas petenis putri nomor satu dunia Maria Sharapova memenangi perjuangannya dalam kasus doping. Hasilnya, petenis Rusia ini bisa bermain lagi mulai April 2017.Federasi Tenis International (ITF) dalam pernyataan resmi, Selasa (4/10/2016), menyatakan skors petenis berusia 29 itu bakal selesai hingga tengah malam 25 April 2017.Pernyataan ITF adalah tindak lanjut keputusan Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) yang memotong hukuman skors bagi Sharapova dari dua tahun menjadi 15 bulan. Ini adalah aksi banding nan sukses oleh Sharapova.
Juni silam, ITF menghukum Sharapova dua tahun karena urinenya positif mengandung meldonium saat mengikuti turnamen Grand Slam Australia Terbuka 2016 pada Januari.Sharapova mengakui konsumsi meldonium yang biasanya diperuntukkan bagi pasien penyakit jantung. Bahkan satu dari 10 petenis putri yang pernah menjuarai Grand Slam ini mengonsumsi obat tersebut secara rutin.Tapi Sharapova mengaku tak tahu bahwa obat itu kemudian masuk dalam daftar terlarang Komisi Anti-Doping Dunia (WADA) mulai 1 Januari 2016 setelah sempat masuk kategori "Daftar Pengawasan".
Keputusan terbaru untuk Sharapova disambut gembira produsen raket HEAD. Dilansir Omnisport (h/t Aol.), CEO HEAD Johan Eliasch dalam keterangan tertulis mengatakan keadilan telah ditegakkan.
Sanksi Sharapova Dikurangi 9 Bulan | PT. Bestprofit Futures Medan
Dalam sidang yang digelar pada Selasa (4/10/2016), CAS menerima sebagian dari banding yang diajukan Sharapova. CAS memutuskan durasi skorsing Sharapova dikorting atau dipotong 9 bulan. Artinya, Sharapova diganjar sanksi selama 15 bulan.
Dengan keputusan tersebut, Sharapova dimungkinkan kembali bermain pada 25 April 2017 atau kurang lebih seminggu setelah dirinya merayakan ulang tahunnya yang ke-30 pada 19 April 2017. Dengan demikian, Sharapova bisa kembali tampil di ajang turnamen Grand Slam Prancis Terbuka dan Wimbledon 2017.
Petenis cantik Rusia, Maria Sharapova, dipastikan bisa kembali bermain tenis mulai akhir April 2017. Langkah banding Sharapova terkait sanksi yang dijatuhkan Federasi Tenis Internasional (ITF) diterima sebagian oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
Setelah terbukti positif doping, menggunakan meldonium, di turnamen Grand Slam Australia Terbuka 2016, Sharapova menerima hukuman larangan bermain di level internasional selama dua tahun. Atau, Sharapova baru bisa bermain setelah 25 Januari 2018.
Sharapova Menanti Nasib Hari Ini | PT. Bestprofit Futures Medan
Akibat pengakuan tersebut, Sharapova harus mendapatkan sanksi dari Federasi Tenis Internasional (ITF) berupa larangan bermain tenis selama dua tahun. Merasa tidak puas, Sharapova kemudian mengajukan banding ke CAS (Pengadilan Arbitrase Olahraga).
"Dalam sebuah pernyataan, CAS mengatakan bahwa mereka akan menyampaikan keputusannya pada pukul 13.00 GMT (sekitar pukul 20.00 WIB--red)," bunyi pernyataan CAS.
Jika melihat dari pengakuan sang petenis, Sharapova kemungkinan mendapatkan keringanan hukuman saat CAS mengumumkan keputusannya tersebut. Apalagi Sharapova tidak dengan sengaja mengonsumsi zat terlarang.
Dalam karier tenisnya Sharapova sudah menjuarai seluruh ajang grand slam yang ada, dengan total koleksi lima gelar juara. Menurut peringkat WTA per 03 Oktober, Sharapova kini menempati peringkat 95 dunia--tak lepas dari aktivitas tenisnya yang sudah tak berjalan.
Petenis cantik asal Rusia, Maria Sharapova akan menanti nasibnya hari ini, Selasa (4/10/2016). Ya, Pengadilan Olahraga di Amerika Serikat akan mengumumkan hasil naik bandingnya atas hukuman dua tahun larangan bermain tenis terkait kasus doping
Kisah memilukan ratu tenis dunia itu terungkap ketika dirinya gagal gagal lolos tes doping di Australia Terbuka 2016. Penyebabnya, mantan petenis nomor satu dunia tersebut terbukti mengonsumsi salah satu zat terlarang bernama meldonium.
PT BestProfit