Laga final yang disaksikan puluhan ribu penonton ini berlangsung panas dan menegangkan bahkan sejak di menit awal. Selama 90 menit waktu normal, kedua tim tidak berhasil mencetak sebiji gol pun sehingga pertandingan dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu 2x15 menit. Namun, waktu tambahan yang diberikan wasit tetap tidak bisa dimanfaatkan tim asuhan Lukas Tumbuan dan Syamsudin Umar untuk menjebol gawang tim lawan. Pertandingan pun terpaksa dilanjutkan dengan adu penalti.
Para pendukung Jabar sempat dibuat khawatir saat penendang ketiga Jabar, Erwin gagal menceploskan bola lantaran bola hasil tendangan terlalu lemah dan bisa ditangkap dengan mudah penjaga gawang Sulawesi Selatan, Syaiful.
Kans tuan rumah meraih emas hampir saja pupus bila saja tendangan algojo kelima tim Sulsel tidak berhasil digagalkan oleh kiper, M Natsir. Skor 4-4 membuat adu penalti dilanjutkan oleh penendang keenam.
Deden, panggilan akrab M Natsir, yang tampil ciamik akhirnya memastikan kemenangan Jabar setelah dengan sempurna membaca dan menepis tendangan algojo terakhir algojo terakhir Sulsel. Ini kali pertama, Jabar berhasil meraih medali emas sepak bola perhelatan PON.
Pelatih Tim Sepak Bola Jabar Lukas Tumbuan, mengatakan spirit dan mental anak-anaknya sangat luar biasa selama pertandingan. Namun, Sulsel yang menggunakan strategi "parkir bus", membuat Jabar sedikit kesulitan mencetak gol.
"Pas pertama, mereka main terbuka. Tapi inilah strategi. Saya sadari saya masih kurang kalau menghadapi lawan seperti Sulsel," kata Lukas saat diemui seusai pertandingan.
Lukas berharap para pemain sepak bola Jabar di PON kali ini dilirik oleh klub-klub Indonesia. Lukas yakin para pemain ini memiliki kemampuan yang baik dan masa depan yang cerah.
Medali emas cabang olahraga sepak bola menyempurnakan keberhasilan Jawa Barat meraih gelar juara umum Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016. Pada laga pamuncak di Stadion Si Jalak Harupat Kabupaten Bandung, semalam, Gian Zola dan kawan- kawan berhasil mengandaskan perlawanan Sulawesi Selatan dengan skor 5-4. Kemenangan diraih sangat dramatis melalui adu tendangan adu penalti.
Penjaga gawang Jawa Barat yang bermain di Persib Bandung, M Natsir menjadi pahlawan tim tuan rumah. Ia berhasil menggagalkan dua tendangan penalti pemain Sulawesi Selatan.
Kiper Persib Jadi Pahlawan Tim PON Jabar: Emas Ini untuk Palestina | PT. Bestprofit Futures Mayapada
Medali emas cabang olahraga sepak bola menyempurnakan keberhasilan Jawa Barat meraih gelar juara umum Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016. Pada laga pamuncak di Stadion Si Jalak Harupat Kabupaten Bandung, Rabu (28/9) malam, Gian Zola dan kawan- kawan berhasil mengandaskan perlawanan Sulawesi Selatan dengan skor 5-4. Kemenangan diraih sangat dramatis melalui adu tendangan adu penalti.Penjaga gawang Jawa Barat yang bermain di Persib Bandung, M Natsir menjadi pahlawan tim tuan rumah. Ia berhasil menggagalkan dua tendangan penalti pemain Sulawesi Selatan.
Laga final yang disaksikan puluhan ribu penonton ini berlangsung panas dan menegangkan bahkan sejak di menit awal. Selama 90 menit waktu normal, kedua tim tidak berhasil mencetak sebiji gol pun sehingga pertandingan dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu 2x15 menit. Namun, waktu tambahan yang diberikan wasit tetap tidak bisa dimanfaatkan tim asuhan Lukas Tumbuan dan Syamsudin Umar untuk menjebol gawang tim lawan. Pertandingan pun terpaksa dilanjutkan dengan adu penalti.Para pendukung Jabar sempat dibuat khawatir saat penendang ketiga Jabar, Erwin gagal menceploskan bola lantaran bola hasil tendangan terlalu lemah dan bisa ditangkap dengan mudah penjaga gawang Sulawesi Selatan, Syaiful.
Kans tuan rumah meraih emas hampir saja pupus bila saja tendangan algojo kelima tim Sulsel tidak berhasil digagalkan oleh kiper, M Natsir. Skor 4-4 membuat adu penalti dilanjutkan oleh penendang keenam.Deden, panggilan akrab M Natsir, yang tampil ciamik akhirnya memastikan kemenangan Jabar setelah dengan sempurna membaca dan menepis tendangan algojo terakhir algojo terakhir Sulsel. Ini kali pertama, Jabar berhasil meraih medali emas sepak bola perhelatan PON.
Pelatih Tim Sepak Bola Jabar Lukas Tumbuan, mengatakan spirit dan mental anak-anaknya sangat luar biasa selama pertandingan. Namun, Sulsel yang menggunakan strategi "parkir bus", membuat Jabar sedikit kesulitan mencetak gol."Pas pertama, mereka main terbuka. Tapi inilah strategi. Saya sadari saya masih kurang kalau menghadapi lawan seperti Sulsel," kata Lukas saat diemui seusai pertandingan.
Lukas berharap para pemain sepak bola Jabar di PON kali ini dilirik oleh klub-klub Indonesia. Lukas yakin para pemain ini memiliki kemampuan yang baik dan masa depan yang cerah.
Kiper M Natsir mengaku, selain mempersembahkan emas sepak bola untuk Jabar, ia juga mempersembahkannya untuk Palestina. Deden, sapaan akrabnya, membawa bendera Palestina ke panggung pemenang. Ia berfoto bersama Gubernur Jabar Ahmad Heryawan sambil membentangkan bendera Palestina."Saya persembahkan emas ini sebagai solidaritas untuk Palestina. Saya bersyukur bisa menang," katanya yang terus sibuk diajak berselfie oleh penggemarnya.
Mencermati PON Jabar yang Semrawut | PT. Bestprofit Futures Mayapada
Dalam sebuah tulisan saya beberapa pekan lalu di Media Harian Ujung Pandang Ekspres (Upeks) tercinta ini sempat saya bahas bahwa begitu besarnya anggaran yang digelontorkan pada pelaksanaan PON XIX Bandung, Jawa Barat,. Khusus untuk seremoni pembukaan dan penutupan saja, anggarannya hingga mencapai Rp90 miliar belum yang lainnya.
Namun kemegahan tersebut ternyata tidaklah sebanding dengan proses pelaksanaannya, lantaran banyak terjadi kericuhan yang menyebabkan kesemrawutan disejumlah Cabang Olahraga (Cabor) disetiap venue pertandingan. Padahal idealnya adalah Pekan Olahraga Nasional (PON XIX) 2016 yang diresmikan dan dibuka dengan megah dan serba wah bahkan dihadiri oleh ribuan warga Kota Bandung yang tentu dikerahkan secara khusus oleh Walikota Ridwan Kamil guna meramaikan acara tersebut harus bersinergi positif secara sukses tanpa ada kesemrawutan alias kekacauan.
Namun sekali lagi kemegahan acara pembukaan even 4 tahun sekali ini tidak membuat para kontingen dari seluruh Indonesia puas. Bahkan, sistem transportasi pun misalnya, banyak para official dan atlet yang mengeluhkannya, termasuk dari Sulawesi Selatan. Ketika kita berbicara persoalan transportasi saja, seharusnya hal ini menjadi penting apalagi dengan jarak dari lokasi ke lokasi yang lainnya tentu berjauhan sehingga memang harus setiap saat standby.
Tetapi sistem transportasi di arena pembukaan PON Jabar ini hingga penutupan pun dianggap semrawut dan amburadul, sehingga banyak yang mengeluhkan. Salah satunya tim dari Sulsel terutama para pengurus KONI Sulsel, dimana usai pembukaan, rombongan ini terpaksa harus berjalan kaki menuju mobil jemputan sekitar 5 KM dari Stadion. Ini boleh jadi menjadi PON yang transportasinya paling parah dalam sejarah PON.
Bahkan kontingen dibiarkan berjalan kaki padahal seharusnya mobil atau bus jemputan sudah stanbay sebelum acara bubar tetapi yang terjadi adalah para peserta bahkan harus menunggu hingga ber jam-jam. Yang lebih lucu lagi, Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporbudpar) Kota Cirebon juga mengaku sempat kebingungan dalam mempersiapkan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 di Jawa Barat. Sebab, koordinasi lintas sektoral di tingkat daerah sendiri nyaris belum ada saat itu.
Bahkan pihak Disporbudpar Kota Cirebon menilai koordinasi dengan Pemprov Jabar terkait PON masih lemah. Di sisi lain, koordinasi antar instansi terkait di lingkungan Pemkot Cirebon rupanya belum pernah dilakukan dengan baik sehingga menunjukkan tren yang kurang baik. Selain hal tersebut di atas, juga dihebohkan dengan Pilkada serentak 2017, termasuk di Jawa Barat, sehingga dengan demikian ajang perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 juga cukup menyita perhatian publik, sebab bisa jadi menjadi sarana sosialisasi diri setiap calon kepala daerah.
Hanya saja sekali lagi, masyarakat dihebohkan dengan sejumlah kericuhan yang terjadi di arena polo air dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 dan menjadi viral di media sosial. Bahkan 10 kontingen Judo memprotes kepemimpinan wasit ditambah dengan pemukulan terhadap atlet, persoalan pemain ilegal, wasit dipertanyakan kredibilitasnya, hingga pada masalah keamanan tentu saja menambah deretan kejadian di PON 2016.
Anehnya, Ketua Kontingen Provinsi Jabar PON XIX/2016 yang juga Pangdam III Siliwangi, Mayjen Hadi Prasodjo meminta seluruh pihak berlapang dada dan tidak serta merta menilai segala persoalan yang terjadi sebagai hal negatif padahal sudah nyata-nyata banyak terjadi kekacauan dan keributan. Padahal, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan sudah menegaskan keinginannya untuk meraih kesuksesan dalam penyelenggaraan, kesuksesan dalam prestasi, kesuksesan dalam menggerakkan perekonomian masyarakat, dan sukses yang tak kalah pentingnya adalah soal administrasi.
Akan tetapi yang terakhir ini menjadi sangat penting karena sang Gubernur tersebut tak ingin ada persoalan-persoalan hukum yang menjerat setelah pesta usai, seperti terjadi di sejumlah daerah lain sebelumnya, namun jika kita semua mencermati pelaksanaan PON tahun ini sejak pembukaan hingga penutupan, tentu begitu banyak bengkalai masalah yang ditinggalkan dan saya kira kita semua sepakat bahwa dari sejumlah problem tersebut menjadikan PON Jabar ini pantas menyabet predikat ‘gelar’ PON yang penuh dengan kesemrawutan. Bravo Olahraga !